?

Log in

No account? Create an account

Марки "С Новым Годом"

Такие красивые марки получила. Спасибо, Посткроссинг!

С новым годом! С новым счастьем!


Кому нужен, вот пожалуйста.

Карта в форме льва

Taiwan Gong Lun, Taipei Taiwan, 1936-1944

Camino de Santiago

Sabah, Land below the wind. Малайзия

Thüringen, Германия

Indochina

Швейцария

Люксембург

Желаю всем с праздником, с новым годом, с рождеством!



Merapi tak pernah ingkar janji


Gunung Merapi

Tanggul Kali Putih, Jawa Tengah

The view of Jogjakarta from Kaliadem

Merapi tak pernah ingkar janji.

Observatorium Bosscha

Saya sebagai warga Jakarta, hanya bisa melihat bintang di langit dengan kasat mata. Lebih sering tidak terlihat karena tertutup awan dan dampak polusi. Ternyata, lampu-lampu kota yang membuat kota bercahaya dilihat dari atas, telah membuat polusi langit dan mengganggu pemandangan langit bagi yang memandangnya dari bawah.

Berkunjung ke Bandung tidak hanya sekedar menikmati kuliner dan belanja pakaian. Kita juga bisa belajar saat wisata. Observatorium Bosscha salah satunya. Terletak di Bandung Utara, tempat ini dapat dijangkau dengan angkutan umum yang menuju Lembang.



Monumen Bosscha

Saya tidak menyangka kalau pendiri Observatorium ini bukanlah seorang ahli astronomi atau ahli fisika atau ahli matematika. K.A.R Bosscha (baca: Bosha, menurut pengucapan Belanda), adalah seorang pengusaha teh. Seperti yang disampaikan oleh mahasiswa Astronomi ITB di ruang multimedia, kabarnya Bosscha pernah duduk di bangku kuliah, namun karena ada konflik dengan dosennya dia tidak melanjutkan kuliah dan pergi ke Indonesia. Ketertarikan Bosscha di bidang astronomi mendorong dia untuk menginvestasikan hartanya dengan mendirikan sebuah observatorium.





Awal pembangunannya dimulai pada tahun 1923 dan berakhir 1928. Bosscha tidak sempat melihat karya ini karena sudah mendahului pergi meninggalkan dunia ini. Selama ini kita hanya tahu bahwa Observatorium terdiri dari Gedung putih berkubah, ternyata ini adalah sebuah kompleks yang berdiri di atas lahan 8 hektar.



Gedung Kupel

Gedung Kupel, adalah gedung inti dari kompleks ini. Ada banyak teleskop di kompleks ini, tapi hanya satu saja yang saya lihat. Gedung ini bentuknya seperti silinder yang ditutupi oleh kubah seperti setengah bola. Gedung Kupel memiliki Teleskop refractor ganda Seizz. Ada 2 lensa yang masing-masing berdiameter 60 cm, sehingga diameter teleskop ini sekitar 1,5 m dengan panjang 11 m. Beratnya sekitar 17 ton atau setara dengan 5 ekor gajah dewasa.



Teleskop

Dimas, Mahasiswa ITB yang menjelaskan tentang teleskop ini dengan menggunakan 1 tangan saja mudah mendorong teleskop. Saya membayangkan jika harus mendorong 5 ekor gajah, satu saja pasti tidak mampu. Mengapa mudah, karena teleskop ini dibangun dengan sistem seimbang sehingga bisa bergerak walau dengan dorongan sedikit saja.

Cara menggunakan teleskop ini adalah pertama, tahu letak objek dan kedua, nasi. Haha, memang butuh sentuhan humor untuk menyampaikan bahasa orang ilmuwan ke orang awam. Jadi, setelah tahu letak, telescop finder diarahkan ke objek yang kemudian data-datanya akan ditransfer ke komputer lewat camera detector. Nah, jika posisi telescop sudah pas tapi pengamat tidak cukup tinggi, bagaimana melihatnya? Pakai kursi? Tidak cukup. Rupanya ini sudah dipikirkan sebelumnya saat konstruksi. Lantai pengamatan ini didisain bisa naik turun hanya dengan menekan tombol.



Lantai tempat mengamati

Lalu, bagaimana cara membuka kubahnya agar bisa mengamati bintang? Berat kubah ini sekitar 20 ton dan tidak ada tombol yang bisa membukanya. Itu hanya bisa dilakukan oleh nasi. Maksudnya, hanya bisa dilakukan oleh manusia (yang sudah makan nasi) dengan menarik tali yang bisa memutar roda pembuka kubah. Memang benar, hanya nasi yang bisa membukanya.





Tujuan dari observatorium ini adalah pengamatan bintang ganda. Kontribusi Observatorium lebih banyak untuk ilmu pengetahuan.

Kembali ke polusi cahaya, di daerah sekitar observatorium sudah banyak digunakan untuk pemukiman maupun hotel. Faktor ini yang membuat sekarang sulit untuk mengamati bintang karena selain polusi udara, banyaknya cahaya dari bawah membuat langit tidak mudah dilihat. Semakin gelap, semakin mudah untuk mengamati. Jika kita di dalam ruangan bercahaya, kita tidak mudah melihat langit. Tapi jika ruangan kita gelap, kita bisa melihat langit.

Ada pesan penting yang bisa saya ambil hari ini. Hemat energi bisa mengurangi polusi langit. Yuk, kita mulai dari diri sendiri untuk membuat langit lebih indah.

Baduy Tribe

They are not poor, and they have more than enough food. They have running water, and they live like normal people. They live happily without television, smart phones, google or facebook. It’s not a problem at all if you have a branded item imported from abroad while they don’t. They don’t really care about what people at the Parliament are fighting for. They are not jealous of other people.

Baduy tribe lives in Banten province, about 140 km away from hectic and crowded Jakarta. The entrance point is Desa Ciboleger. This is the last point where we can find grocery store. Baduy is in Java island, where most development is concentrated here. My mom, who grew up in West Java, said that Baduy people are not allowed to walk together, they must walk one by one and follow each other.




We started to walk at around 1:30pm from Desa Ciboleger. There are two types of Baduy tribe, Baduy Luar (Outer Baduy) and Baduy Dalam (Inner Baduy). We reached the border of Baduy Dalam and Baduy Luar at around 2pm. The bridge was made of bamboo and rope.  Some friends preferred to stay at Baduy Luar, because they heard the trekking route is quite challenging. It was raining, slippery, steep, and rocky. Foreigners are not allowed to enter Baduy Dalam. Baduy Luar tribe have access to electricity, they wear usual clothes. What I meant here is like tshirt, jeans, shorts, shoes or sandals. Women usually wear sarong. They have toilet, room for shower (although it’s only bucket and bailer or gayung).



We continued walking and slowly but sure, the mud were making my steps a bit harder. Our guides were from Baduy Dalam. They walked with bare foot. Aldi, our guide who hold a plastic of eggs on his hand, walked like there’s nothing to be afraid of. I walked very carefully because I didn’t want to fall on the rocks.





There’s another rule in Baduy Dalam. Visitors are not allowed to take pictures inside. There’s a final spot where we can take final picture before entering the zone. I respect the rule. I heard about some people taking photos secretly, but then the memory card was broken. Anything could happen here. Some also believe that Baduy has something mystical. They don’t follow any religions.



We finally reached the house almost dark at around 6pm. The village has around 600 people, it’s nearby the river, only a few meter away. The size of each house is similar. Don’t ask about the furniture. I saw only thick bamboo carpet. We stayed at our guide’s house. He lives with his wife and 2 children. Physically, they have brighter skin. It’s the color of many Indonesian women dream of. Women of Baduy Dalam don’t even wear make-up, fashion, or any jewelry. Now I’m strongly believe that women’s best friend is not diamond. Baduy Dalam tribe wears only black and white. Men don’t wear pants, but similar to skirt. They have white large fabric as their bag. Women wear sarong and large fabric to carry their infants or small children, or bucket.

No soap, no toothpaste! That’s the rule of using the common “shower room”. Anything that can affect nature and the river is not allowed. Oh, by the way, for women is on this side, and for men is a bit further. Well, there’s no door to keep your privacy.

At the age of around 10, the parents usually set up their children’s future spouse. I guess they got married at the age 20 or so. “What if they don’t like it?”, someone asked if she/he doesn’t like to be set up. “Nothing, just accept it!” These people really taught me something, especially to accept things I can not change.

There is no health facilities, but they have Tabib, who is believed can cure many diseases. Children learn from their parents although they don’t go to school. Since childhood, they don’t wear any footwear at all. And it’s forever. At 9pm, the village was already quite and dark. Sure, there’s no light, no tv, no news, no signal. In addition, no pillow, no bed, no mattress.

The next morning after breakfast, we left the village at 7am. Before we left, the host offered some souvenir for sale. Typical souvenirs are traditional handmade fabric, bracelet, key chains, tshirt, honey. There were sellers from outside as well. I noticed them because they wore sandals, tshirt, jeans.

On the way back, I saw many durian trees. I’m a durian lover. No wonder Baduy tribe lives happily. They can get durian anytime they want while urban people must pay thousands of rupiah when they are craving for durians.

One of the best spots in Baduy is the root bridge. The root of the trees is holding back the bridge. It’s very beautiful.





And finally, I could have a picture with Baduy people.



I really enjoyed this trip. It’s a good way to learn life without gadgets.
Jika Anda penggemar Paulo Coelho, Anda mungkin tahu “The Pilgrimage” yang menceritakan kisah perjalanan spiritual Paulo Coelho dari Kota Saint-Jean-Pied-de-Port di Perancis hingga Kota Santiago de Compostela, Galicia, yang letaknya di sebelah barat laut Spanyol. Jalur perjalanan tersebut dikenal dengan “El Camino de Santiago”. Dengan  total jarak sekitar 780 km atau dalam bahasa Inggris “The Way of St. James” -  adalah jalur peziarah umat Katolik yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki, bersepeda, atau berkuda.  Salah satu kota yang dapat dikunjungi dari jalur tersebut adalah kota Burgos, sebuah kota kecil di bagian utara Spanyol, provinsi Burgos, wilayah otonomi Castile and Leon.




Burgos – Jalur wajib El Camino de Santiago





Kata “burgo” dalam bentuk kata tunggal menurut bahasa Spanyol kuno artinya kota. Kota Burgos terletak sekitar 244 km ke arah utara dari Madrid, ibukota Spanyol, atau sekitar 2 jam 30 menit dengan bus. Jumlah penduduknya sekitar 180,000 jiwa dan merupakan ibukota provinsi Burgos. Kota ini terkenal dengan Cathedral Burgos yang terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1984.

Burgos memang bukan tempat tujuan wisata yang masuk dalam daftar wajib untuk dikunjungi seperti Madrid atau Barcelona ketika wisatawan pada umumnya berkunjung ke Spanyol. Keinginan untuk tahu tentang kota ini dimulai dari  penelusuran secara mendalam di internet mengenai El Camino, seperti di buku Paulo Coelho, bahwa Burgos adalah salah satu kota yang wajib dilewati para peziarah El Camino menuju kota tujuan Santiago de Compostela. Rasa penasaran semakin tinggi ketika membaca referensi travel andalan saya yaitu wikipedia dan wikitravel bahwa di kota ini banyak terdapat bangunan bersejarah, dan yang terpenting, Cathedral, Selain itu, saya memang sudah berniat ingin merasakan atmosfer suasana asli sebuah kota kecil Spanyol tanpa pemandangan rombongan turis-turis asing.

Kota ini lebih sejuk dibandingkan kota-kota lainnya di wilayah selatan dan timur Spanyol karena berada di ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut. Suhu di kota Burgos di musim panas sekitar 27 derajat Celcius, sangat sejuk dibandingkan di kota-kota di daerah Andalucia, bagian selatan Spanyol yang mencapai 43 derajat Celcius.

Tiba di Stasiun Bus dengan ALSA bus dari Madrid menjelang siang, saya berjalan kaki sekitar 100 meter melewati sungai  Arlanzon. Sebelum tiba di di Arco Santa Maria, gerbang masuk kota yang dibangun pada abad ke-14. Arco de Santa Maria merupakan salah satu  monumen  terkenal di Burgos.


Peta – petunjuk utama

Tempat pertama yang selalu saya cari ketika tiba di suatu tempat adalah “La Oficina de Turismo” atau pusat informasi untuk turis. Dimana saya bisa bertanya untuk mendapatkan informasi tempat-tempat yang wajib dikunjungi. Dan yang pasti, untuk mendapatkan peta kota. Saya belajar sedikit  bahasa Spanyol sebagai modal komunikasi dengan penduduk setempat.

Seorang teman mengajarkan saya  cara meminta  peta kota dalam bahasa spanyol, yaitu “Un mapa, por favor!”. Terjemahannya dalam bahasa inggris sangatlah sederhana, yaitu “A map, please!”, Biasanya petugas akan bertanya balik dengan bahasa Spanyol. Seperti biasa pula,  saya hanya menampilkan ekspresi tersenyum.  Tanda tidak mengerti. Baru petugas akan bertanya kembali dengan bahasa inggris. Di beberapa kota yang saya kunjungi, petugas selalu menanyakan asal negara ketika saya mampir ke pusat informasi. Petugas setempat sudah punya daftar negara dan mereka hanya perlu menambahkan jumlah saja ketika turis mampir.

Setelah melewati gerbang dan mendapatkan  peta kota dari “La Oficina de Turismo” yang letaknya hanya beberapa meter dari gerbang Arco de Santa Maria, saya langsung menyaksikan Cathedral Burgos. Tepat di depan Cathedral, terdapat  patung  sosok seorang laki-laki memegang tongkat. Dengan  simbol El Camino terikat di lehernya. Raut wajahnya,  digambarkan seolah lelah, dengan luka-luka di kakinya akibat perjalanan panjang yang dilaluinya. Saya bisa bayangkan bagaimana rasanya berjalan kaki ratusan kilo meter beberapa ratus tahun yang lalu.



Cathedral Burgos – tempat saya “bertemu” dengan Paulo Coelho

Harga tiket masuk Cathedral sebesar 7 Euro. Merupakan salah satu tempat wajib untuk didatangi. Tampilan disain bangunannya bergaya  Gothic Katolik Roma. Berdiri  megah.

Konstruksi Cathedral of Saint Mary of Burgos atau “La Catedral de Santa Maria de Burgos” - nama lain Cathedral Burgos dimulai pada tahun  1221 hingga 1260.  Atas perintah Raja Ferdinand III dari Castile dan Uskup Don Mauricio dari Burgos. Kemudian diperlebar dengan menambahkan cloister dan chapel-chapel yaitu Chapel  Constables (abad ke-15), chapel St. Tecla (abad ke-18), dome atau kubah (abad ke-16). Di tempat inilah saya merasa “bertemu” dengan Paulo Coelho. Karena, setelah saya lihat video tentang perjalanan Paulo Coelho melakukan El  Camino de Santiago di youtube, saya melihat apa yang dia lihat dan berada di tempat yang sama menyusuri lorong Cathedral.









Arsitek dibalik Cathedral ini adalah seorang warga Perancis di abad 13. Kemudian  dilanjutkan oleh seorang warga Jerman di abad 15. Salah satu karya penting dari Cathedral Burgos adalah sacristy atau Chapel of Saint Thecla yang dibuat di abad ke-18. Meskipun disain  dasar Cathedral Burgos adalah Gothic, tapi banyak  dipengaruhi oleh dekorasi bernuansa Renaisance dan Barokko.

Sejak tahun 1919, Catedral Burgos menjadi tempat makam Rodrigo Diaz de Vivar, pahlawan nasional Spanyol yang terkenal dengan julukan El Cid  Campeador beserta istrinya, Doña Jimena. El Cid adalah pahlawan nasional Spanyol berasal dari Burgos yang terkenal dengan perjuangannya melawan kerajaan muslim dari Zaragoza untuk mempertahankan Aragon dan Barcelona.

Atas keindahan arsitektur Cathedral bergaya Gothic ini, pada tanggal 31 Oktober 1984 Cathedral Burgos ditasbihkan  sebagai  Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Sekaligus menjadikan  Spanyol sebagai  negara nomor 2 di dunia setelah Italia yang memiliki daftar Warisan  Warisan  Dunia  terbanyak menurut UNESCO.

Beberapa bagian Cathedral yang juga sangat menarik untuk dilihat adalah Puerta del Sarmental, yaitu pintu masuk ke dalam catedral, Capilla del Condestable, dan Cloister Cathedral yang menakjubkan. Saya sendiri bukan seorang beragama Katolik, tapi berada di dalam dan duduk menatapi keindahan Cathedral dengan alunan musik gereja membuat saya semakin bersyukur atas apa yang saya lihat hari itu.  Suasana hening, tenang, serta aroma lilin terbakar juga membuat saya merasakan bahwa moment itu sangat spesial. 



Ada 3 menara di Catheral ini, yaitu 1 yang paling tinggi dengan loncengnya beserta 2 menara kembar. Tinggi menara Cathedral mencapai 88 meter. Lonceng Cathedral yang berdentang setiap hari Minggu jam 12 siang,  merupakan atraksi  menarik yang dinanti pengunjung. Setiap bagian dalam Cathedral sepert altar, chapel dan monumen  menunjukan  karya seni berkualitas  dan mengandung nilai sejarah yang tinggi.  Saat itu saya hanya melihat 2-3 orang pengunjung dari Asia. Rupanya, di jaman yang sekuler ini masih banyak juga orang Eropa yang melakukan perjalanan spiritualnya ke tempat ini karena saya melihat beberapa pengunjung membuat tanda salib.

Setelah berkeliling di dalam Cathedral sekitar 1 jam, saya  melanjutkan  berjalan kaki.  Sedikit mendaki menuju Benteng atau Castillo de Burgos dengan melewati Iglesia de San Esteban.


El Cid Campeador – Sang Penakluk dari Burgos

Kata El Cid berasal dari bahasa Arab yang artinya pemimpin.  Gelar tersebut diberikan oleh Bangsa Moor kepada Rodrigo Diaz de Vivar, yang lahir di kota Vivar, sekitar 7 km dari kota Burgos. Dia diperkirakan lahir tahun 1040 dan memiliki 3 anak dari istrinya, Jimena Diaz atau Doña Jimena. Sedangkan El Campeador yang artinya pemenang atau Sang Penakluk. Diberikan oleh kaum Kristen kala itu karena kehebatan Rodrigo Diaz de Vivar menaklukan musuh-musuhnya.  Sesudah kematiannya, sang istri kemudian melanjutkan perlawanannya.



El Cid Campeador adalah sosok yang selalu membawa kemenangan, intelejen, heroik, tegas, bijaksana, berani, dan itu adalah anugrah dari Tuhan. Dia meninggal pada tahun 1099 di Valencia karena kelaparan yang terjadi akibat perang melawan bangsa Arab. Kematiannya membuat luka dan kesedihan mendalam bagi umat Kristen dan kesenangan besar bagi musuh-musuhnya. Informasi ini tertulis bagaikan prasasti di bawah patung El Cid Campeador dan memang memberi kesan kehebatan sosok beliau sebagai pahlawan nasional.


Benteng Burgos

Untuk menuju Benteng atau Castillo, saya harus menaiki beberapa anak tangga. Lumayan menanjak tinggi karena letaknya di bukit  .Tapi rasa lelah langsung hilang,  karena disinilah saya bisa menikmati  indahnya panorama kota dari atas. Menara Cathedral nampak tinggi  mencolok. Di spot ini  juga  saya semakin yakin bahwa pemandangan paling utama yang ditawarkan pariwisata Burgos adalah ya Cathedral itu.  Untuk mengabadikan momen dengan latar belakang panorama Cathedral, saya meminta seseorang untuk memoto saya karena saya tidak mahir selfie.


Benteng ini merupakan saksi asal muasal kota dan perkembangannya. Benteng ini melindungi dari pertempuran, perang, kemudian mengalami rekonstruksi,hingga sekarang menjadi museum. Dibangun pada tahun 884, di dalam benteng ini terdapat ruang bawah tanah dan sumur  dengan kedalaman mencapai  300 meter.

Plaza Mayor - pusat perbelanjaan

Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke  Plaza Mayor atau “Main Square”. Kota-kota di Spanyol umumnya memiliki Plaza Mayor. Sebagai tempat  berkumpul utama warga  atau sebagai pusat ekonomi dengan café, restaurant, pertokoan, atau kantor pemerintahan.  Saya melewati Plaza Mayor saat siang menjelang sore, tidak banyak orang lokal yang saya lihat, mungkin karena masih jam kerja. Tidak mudah untuk mendapatkan gambar utuh Plaza Mayor karena bentuknya square.



Burgos juga pernah mengalami banjir pada tahun 1874 dan 1930. Tinggi  air mencapai  lebih dari 1,5 meter saat tersebut. Di Plaza Mayor,  jejak garis banjir ini diabadikan oleh pemerintah setempat.



Yang menarik juga dari kota Burgos adalah Paseo del Espolon - adalah nama area tempat  berjalan di sepanjang tepi sungai Arlazon. Tidak jauh dari Plaza Mayor.  Jalur khusus untuk pejalan kaki ini ditumbuhi pepohonan dengan  bentuk yang  unik. Ketika saya bertanya kepada  penduduk setempat  mengenai  nama pohon ini, saya   mendapatkan dua nama berbeda yaitu “Las Acacias” dan “Los Arboles Plataneros”.



Jenis pohon ini konon hanya tumbuh di Burgos. Di sepanjang jalannya banyak menjamur  café, toko, restaurant,  yang   ramai dengan pengunjung. Terutama saat musim panas. Saya  terkesan dengan jalur  khusus pejalan kaki ini karena bersih dan tempat sampah tersedia dimana-mana. Saya hanya bisa berangan-angan saja, jika melintasi jalur khusus ini dengan seorang spesial, pasti akan menjadi kenangan tak terlupakan.



Perjalanan saya lanjutkan menuju Patung El Cid Campeador, yang merupakan sosok kebanggaan Burgales atau penduduk Burgos. Letaknya di Mio Cid Square “Plaza de Mio Cid”. El Cid, sering juga disebut demikian, sang Penakluk dari Burgos, berbadan tegap  sambil mengendarai kuda dan memegang sebilah pedang, seperti sedang dalam pertempuran besar. Dia ditempatkan dimana banyak orang lalu lalang. Ketika orang sedang berhenti di lampu merah atau menunggu bus di halte, Patung El Cid seolah-olah mengajak mata orang-orang yang sedang berada di sekitar untuk meliriknya. Memang benar istilah tak kenal maka tak sayang. Jika saya tidak tahu siapa El Cid itu, saya mungkin hanya akan melewati patung itu begitu saja, Yang sangat mencuri pandangan mata saya adalah pedangnya yang panjang.   Saat ini, replika pedang El Cid  bisa dijumpai dijual di toko-toko suvenir.



Tidak jauh dari patung El Cid , menyeberang jembatan sungai Arlazon, ada Museo de la Evolución Humana, atau Museum of Human Evolucion. Museum ini menceritakan tentang evolusi manusia secara lengkap dari seluruh dunia, termasuk juga manusia purba dari Indonesia seperti Mojokerto dan Flores. Tidak dikenakan biaya  masuk  jika berkunjung di atas jam 7. Saat musim panas, jam 7 malam mataharinya masih terik, dan mulai gelap sekitar jam 10 malam.



Sebelum mengakhiri perjalanan seharian dengan berjalan kaki, saya mencicipi makanan khas antara lain tortilla de patatas yang terbuat dari telur dan kentang. Sebelumnya, saat makan siang saya makan tapas dengan kentang goreng. Ada juga makahan khas yang wajib dicicipi namun, maaf, haram bagi umat muslim, yaitu jamon. Jamon adalah daging babi yang dikeringkan dan rasanya asin dan gurih. Dimakan dengan roti.



Menjelang jam 6 sore, perjalanan saya tutup  di  toko souvenir untuk membeli magnet dan postcard. Postcard adalah hal penting yang wajib untuk koleksi pribadi. Saya bingung memilihnya karena semuanya bagus dan unik. Akhirnya pilihan saya jatuh pada postcard bergambar jalur El Camino de Santiago dan magnet Cathedral Kemudian,  dengan menggunakan bus saya kembali ke Madrid. Walau kunjungan singkat ini, tapi saya sangat terkesan dengan Burgos. Semoga  memberi inspiransi untuk perjalanan Anda selanjutnya.

Jakarta's Parking Lot

IMG01185-20120810-1731
A very common view during the afternoon at Jalan Sudirman-Thamrin

IMG01186-20120810-1732


IMG01652-20121221-1612
Jakarta's traffic from the top

Ветер Перемен

Scorpions
Текст песни «Wind Of Change (Russian)»

(Music Klaus Meine)
(Lyrics Klaus Meine)

Набережной Москвы
Иду к Парку Горького
Слушаю я
Ветер Перемен
Летняя ночь Августа
Мимо идут солдаты
Слушаю я
Ветер Перемен

Мир смыкается
Думали ли Вы
Мы станем близкими
Как братья
Воздух наполнен будущим
И чувствуется везде
Ветер,
Ветер Перемен

Верни меня, верни в момент той ночи славной
Когда дети грядущего мечтают
Ветер Перемен

Иду по улице,
Давние воспоминания
Закованны (?)
В Прошлом
Набережной Москвы
Иду к Парку Горького
Слушаю я
Ветер Перемен

Верни меня, верни в момент той ночи славной
Когда дети грядущего мечтают
Ветер Перемен

Верни меня, верни в момент той ночи славной
Когда дети грядущего мечтают
Ветер Перемен